Day 7 - Masih di Osaka :)

Jumat, 17 April 2015.

Masih hari yang sepi. Oh, Nagai sepi sekali di sini. Rasanya ingin bergegas check out dari hostel. Setelah mandi dan sarapan, kami pun kembali melanjutkan petualangan tanpa ingin mengingat Nagai Youth Hostel ini lagi haha. Kualitasnya beda jauh sama Utano Youth Hostel ditambah kejadian malamnya yang menghadiahkan kami cerita lucu untuk dikenang :))))))

Selamat tinggal, Nagai :)
Masih ada satu sumber adrenalin lagi. Rencananya, kami akan pulang ke Tokyo malam ini dan naik bis malam (supaya bisa menghemat biaya penginapan gitu). Tapiiiii Willer Bus untuk semua kelas full booked dong. Mau coba transit di Nagoya juga penuh. Saya nggak bisa tenang sebelum dapat kepastian tentang bis. Kami terus mencoba googling alternatif bis yang lain, tapi websitenya tulisan Jepang semua. Sampai akhirnya kami mendarat di website yang menyebutkan nomor telpon bis antar kota dari JR, dan yang paling penting ada keterangan English spoken. So, there is a hope! Jika tidak, alternatif terakhir yang kami punya hanyalah naik shinkansen yang mahal banget itu, huks.

Kami kembali ke Shin-Osaka Station dan transit di Umeda Station. Kami mencari telpon umum dan menghubungi call center JR Bus. Jadi intinya, tidak bisa dilakukan pemesanan melalui telpon, tapi kami diarahkan untuk datang ke Bus Center di Osaka Station. Baiklah, kami pun langsung meluncur ke Osaka Station, mencari loket pemesanan bis JR, dan.... memang bis untuk malam ini sudah penuh. Kami memutuskan untuk ke Tokyo esok paginya dan alhamdulillah masih dapat kursi. Ya Allah, rasanya tenaaaang banget. Dan itu artinya, kami akan berada di Osaka satu malam lagi :p

Kami pun mengejar waktu untuk sholat Jumat. Osaka Mosque berada tidak jauh dari Chibune Station. Kangen deh sama suara adzan. Di sini terlihat banyak orang muslim yang berkumpul, dan kami bertemu orang Indonesia juga yang sudah lama bekerja di Osaka. Sesampai di area wanita, saya bertemu dengan beberapa orang Uzbekiztan yang cantiiiik dan menyangka saya dokter :( Mereka memandangi saya dan tiba-tiba bertanya kenapa rambutnya rontok terus sambil menunjuk kepalanya. Saya pikir kerudung saya tidak menutup sempurna, sampai akhirnya saya mengerti apa maksud mereka.

"Have you tried shampoo?"

"Shampoo is expensive"

"Try olive oil, then"

"At what time should I use it? One, two, three?"

"Before you go to sleep"

Aaaakkk sok tau banget rasanya. But they said a lot of thanks to me. Sayang banget saat itu saya tidak membawa minyak zaitun yang biasa saya pakai. Setelah itu, kami sholat Jumat bersama. Ada wanita Jepang muslim, India, dan beberapa mahasiswi muslim juga yang sholat di sini. Ini pertama kalinya saya ikutan sholat Jumat, agak bingung juga sih. Sholat Jumat dilaksanakan pukul setengah dua siang setelah khutbah Jumat yang dibawakan dengan bahasa Inggris, Jepang, Arab campur-campur. Para wanita muslim di sini terlihat sangat mencintai Al Quran, mereka menyelingi waktu dengan membaca sambil mencium kitab suci itu berulang-ulang. Senang sekali bisa ikut serta dalam pengalaman ini :')


Osaka Mosque 
Setelah sholat kami makan siang di Halal Restaurant. Kami memesan roti bernama Nun dengan ayam asam manis, kari, salad, dan minuman dari susu. Duh, enak banget! Rasa masakannya pas banget di lidah dan perut kami. Si pemilik restoran berwajah Timur Tengah dan menggunakan jubah. Dia selalu tersenyum dan menyalami pengunjung yang datang. Restorannya ramai terutama di hari Jumat.



Kami kembali ke Osaka Station. Sepanjang perjalanan, kami banyak melihat sungai-sungai yang sangat bersih dan cantik. Sayang banget juga nggak bisa mampir ke Kansai Airport yang dibangun di pulau buatan itu. Ah, keren! Nah, di Osaka Station baru deh terlihat tanda-tanda kehidupan, tidak seperti Nagai.




Yang harus kami cari selanjutnya adalah di mana kami akan menghabiskan satu malam di Osaka. Kami berdua berdiri di pojok stasiun lalu sibuk dengan hape masing-masing mencari info tentang penginapan. Yang pertama adalah penginapan harus dekat dengan Osaka Station agar tidak ketinggalan bis esok harinya. Dan yang kedua adalah harus murah. Akhirnya, kami menemukan satu kawasan yang banyak hotel murah meriahnya yaitu kawasan di sekitar Doubutsuenmae Station. Selain itu, transportasinya juga mudah hanya butuh naik sekali JR Loop langsung deh sampai.

Bener deh, di sini banyak penginapan yang murah dan bagus. Nyesel kenapa malah pilihnya di Nagai, hehe. Sebagian besar hotel penuh dong, dan kami menemukan satu hotel bernama Mikado Hotel yang direkomendasikan oleh trip advisor. Hanya ada satu kamar tersisa, dan kami diberi diskon sehingga yang kami bayar hanya 3000 Yen saja untuk berdua. Alhamdulillah, ini adalah pengalaman jalan-jalan jauh pertama kali tanpa perencanaan yang sangat serius. Ternyata ada banyak kejutan yang kami temukan :)

Nah, saat itu kami sangat membutuhkan cash money, tapi kami belum menemukan 7 Bank ATM yang ada di Seven Eleven dan bisa menerima ATM Indonesia. Saat itu, kami hanya punya uang receh haha. Dan malam itu kami memesan mie instan saja di hotel. Suasana di Mikado Hotel sangat menyenangkan. Kami makan bersama dengan beberapa orang Korea dan turis dari Selandia Baru. Gadis-gadis korea itu makan mie sepanci bertiga yang mereka masak sendiri. Sedangkan, turis dari Selandia Baru membeli Bento di Lawson. Kami pun berkenalan. Mereka adalah pasangan suami istri yang sudah menikah 40 tahun dan menghabiskan hari tuanya untuk jalan-jalan. Pekerjaan mereka adalah bertani dan berkebun, punya peternakan sendiri dan pertanian sendiri.

Yang menarik adalah saat mereka baru sadar kalau Bali itu adalah Indonesia. Mereka belum pernah ke Indonesia, tapi sudah pernah ke Bali. LOL. Moment percakapan seperti ini yang paling dinanti-nanti saat berjalan-jalan dan mereka mengobrol dengan sangat hangat :)

Comments

Popular Posts